Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Friday, December 27, 2013

Hadap Nyata

Bahkan Tuhan terlalu baik
Dia bangunkanku dari mimpi indah yang tlah kukira fakta
Tentang tanda tanya besar yang tak kutahu jawabnya
Aku tertunduk lesu di pojokan tanpa jawaban

Aku terlalu cepat berharap
Terlalu tinggi melayang dan kini hancur berserak
Kembali berdiri menantang kepiluan
Mengenali lagi perih yang hampir kulupa

Thursday, December 12, 2013

kita sedang menjadi bagian dan harapan

Semua kebetulan ini terasa berencana
semua diam kinipun mulai ikut bersuara
misteri hari ini esok kan berakhir apa?
aku-kau beda akankah menjadi kita?

tiap hari detik berganti kunanti
rindu ini takkan mati meski terobati
lupa dunia senyum itu meruntuhkan semua
berharap ada setiap pagi menyapa dunia

menunggu waktu dan keadaan lebih bersahabat
mungkin juga persepsi yang melenceng dari fakta
terlihat baik masih mungkin menjadi jahat
biarkan waktu yang memainkan perannya

kenali lebih, minimalkan perih
ekspektasi tak selalu nyata, hadapi resikonya
jika engkau bisa, aku akan lebih berusaha
aku memilih takkan berhenti karena letih

Coba, mungkin Tuhan punya rencana
jika memang bukan, setidaknya sudah diusahakan
berhasil atau gagal, tak akan meninggalkan sesal
kita bagian, tidak terlupakan

Rinduku Berharap

Malampun jatuh, jatuh padamu merindu
Sesunyi malam ini bersama bintang yang tak begitu banyak
Aku seperti luka menemukan penawar
disitu kutemukan perih yang mulai bersahabat

meski bayangan semu ada di depanku
walau nyata, ternyata jauh terpisah wacana
terbentang luas, semua penuh memuja seluruh
malam ini segalanya, kau ada di dalamnya

aku tak tahu mana yang lebih dominan
antara sayang dan bayangan kesalahan
yang aku tahu harap selalu muncul bersama pagi
bersama mentari, sinar hangat dan senyum sapa itu

Thursday, August 15, 2013

Abstrak citra "biasa"

Jika untukmu, aku bukan?
biar rasa ini, membusuk perlahan.
segala ungkapan, tunggu ungkapkan!
Segala untukmu, tak tertahan.

Ketika aku pungguk, kau rembulan di genggaman.
ketika aku tunduk, kau serupa sanjung pujian.
Rasa terkutuk, kau mantra pembebasan.
Disaat terburuk, kau berita kegembiraan.

Siang-malam, kumimpi,kunanti.
gelap kelam, hingga mentari menyinari.
api padam, sinar  itu tak mati.
Aku hitam, kau ornamen menghiasi.

Terlalu berlebih, aku memuji.
terlampau letih, tiap kata tak kupungkiri.
bukan sedih, semua hanya persepsi.
luka ini perih, berharap terobati.

Tak ada kalimat kata, "kau terlalu sempurna."
kau adalah biasa, dengan sedikit pembeda.
ini nyata, "biasa" mu membuatku menggila.
Ini bukan cinta, hanya wujud abstraknya citra.